Jadi Presiden
March 15, 2007
” Bagaimana kalau aku terpilih jadi presiden? ” itu pertanyaan yang kuajukan kepada suamiku saat dia sedang sibuk dengan kerjaannya. ” Dua hari setelah terpilih aku akan menjadi duda” begitu jawabnya, ” what?” aku kaget dengan jawab singkatnya. Selintas kupikir dia tidak suka kalau nantinya dia jadi bapak presiden dan berniat menceraikanku. “Kenapa begitu?” tanyaku lagi, sekilas dia melirikku dan akhirnya kembali menatap laptopnya dan berkata tanpa ekspresi yang jelas ” sayang kamu itu perempuan terjudes yang pernah aku kenal” , sekali lagi “what?” meluncur keras dari mulutku. Sebegitu jelekkah kesan tentang diriku dimata suamiku, tetapi apa hubunganya antara judes sama duda. Aku berpikir keras bagaimana suamiku tidak setuju kalau aku jadi presiden di negaraku yang tercinta ini. Walaupun aku masih penasaran dengan jawaban suamiku yang singkat itu tapi aku lebih baik menunda untuk bertanya lagi karena kulihat dia lagi berkonsentrasi penuh dengan kerjaannya.Besok harinya ketika aku sedang sibuk di dapur sambil mendengarkan berita yang lagi ditonton suamiku, sekilas aku dengar presenter di TV berkata ” Indonesia has got a lot of potential ” dan suamiku tertawa-tawa menyahuti presenter tersebut “ a lot potential but does not have capability to take advantage of the opportunity “. Tiba-tiba aku teringat tentang pertanyaan yang belum sempat suamiku jawab tadi malam. ” Dave kenapa kamu akan menduda jika aku kepilih jadi presiden?” . Suamiku tersenyum simpul ” kamu ini memang aneh, memang siapa yang mau milih kamu jadi presiden?, punya partai saja enggak bagaimana bisa terkenal dan terpilih?” , ” he he he kan aku bilang kalau dave” balasku.
Lalu dia mengecilkan volume TV nya dan menghampiriku ” Sayang kita ini tinggal di dunia nyata, kalau orang seperti kamu terpilih jadi presiden kamu pasti akan dibunuh dalam hitungan hari saja dan berarti aku akan jadi duda asap”, “oh begitu, tapi kenapa? apa aku tidak pantas jadi presiden?” masih dengan gaya ngeyel seperti biasa aku bertanya sedikit memaksa untuk mendapat jawaban yang memuaskan diriku.
” Semua yang kamu lihat di dunia nyata ini adalah hanya sebuah penampakan luarnya saja dan penampakan luar ini dibentuk oleh komponen-komponen pembentuk yang sudah sekian lamanya dibangun untuk menjadi sebuah jaringan yang sudah terstruktur, bahkan komponen-komponen pembentuk jaringan itu tidak mengetahui bahwa mereka dalam satu jaringan yang sama. Tahu kenapa komponen-komponen tersebut tidak mengetahui bahwa mereka semua dalam jaringan yang sama ?” jelas suamiku, “tidak” jawabku dan kutatap matanya yang berarti bahwa aku butuh penjelasan lebih.
” Jaringan terbentuk karena komponen-komponen pembentuknya adalah sesuai satu sama lainnya dan saya tekankan disini bahwa sesuai bukan berarti harus sama, yang ini berarti sudah melewati proses seleksi. Proses seleksi ini tidak berdasarkan dari peninjauan satu karakter saja seperti layaknya seleksi pegawai negeri tetapi seleksi ini bisa didasarkan dari berbagai karakter yang selalu berbeda. Karena dengan banyak dasar karakter itulah jaringan itu akan semakin kuat” jelas suamiku sekali lagi dengan panjang lebar. ” lalu apa hubungannya dengan aku?” tanyaku mantap, ” Lulus seleksi itu susah karena biasanya komponen-komponen pembentuk itu sudah berupa komponen yang dicalonkan maksudnya bukan komponen yang mencalonkan untuk ikut seleksi tetapi jaringanlah yang mencari komponen untuk di calonkan ikut seleksi. Nah kalau kamu terpilih menjadi presiden berarti itu mengindikasikan adanya error di sistem jaringan dan kalau jaringan sudah berfungsi lagi maka semua error report akan di delete bukan di simpan ” goda suamiku, ” kok tega sich istri sendiri dianggap error?” jawabku sewot. ” sayang gimana kamu tidak error, semua orang saja menghindari dibilang judes dan bermanis-manis ria di depan banyak orang, nah kamu, style ngomong saja seperti itu, mimpi terpilih jadi presiden” sekali lagi ledekan keluar dari mulut suamiku.
Memang benar apa yang suamiku bilang kali ya, aku dapat mug cantik dari Indosat sebagai hadiah dari permintaan maaf mereka, bekas bosku dulu di kantor pusat bersyukur waktu aku memutuskan mengundurkan diri, temankupun lebih suka mendengarkan nasihat dari orang yang suka ngomongin dia di belakang daripada dapat nasehat yang sangat menyakitkan dari bibir tipisku, beberapa staff di kantor pelayanan umumpun sudah banyak yang mengenalku dan terakhir adalah operator speedy yang semakin hari semakin baik pelayanannya. Bagaimana mau terpilih jadi presiden kalau nantinya semua orang sudah tahu akan kena omelan. Benar-benar mimpi kali yeeeeeeeeeeeeeeee
Entry Filed under: Golb Digger (GD). .
4 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed



1.
Nada taufik | March 15, 2007 at 5:18 pm
Lucu juga nih postingannya.. andai jadi presiden ya.. wuih mantab idenya
2.
NiLA Obsidian | March 16, 2007 at 4:05 pm
waduh…yg ngajak kenalan calon presiden neh….
hehehe….hayuuuukkk kenalan jeng…
ga papa jutek tapi lovely….hihihi
3.
pacarterbang | March 18, 2007 at 8:03 am
pilih mana : jadi presiden atau jadi pesinden?
4.
Raquel Brenda | March 21, 2007 at 12:16 pm
hi mba, postingannya lucu.. tapi kalo dipikir2 mungkin kita emang butuh presiden judes..biar pada takut jadi kerjanya pada bener..hi3x..